CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Selasa, 27 Maret 2012

Dialog Malin Kundang



Malin Kundang


Pada suatu waktu, di desa terpencil ada sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatera Barat. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang Ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas.
Ayah  :         Bu, Ayah ingin merantau ke negeri seberang.
Ibu     :         (Ibu terkejut) Mengapa ayah ingin merantau?
Ayah  :         Karena ayah tidak bisa membiarkan kondisi keuangan kita seperti ini terus.
Ibu     :         Tapi yah… (gelisa)
Ayah  :         Mau bagaimana lagi, jalan satu – satunya yang ayah bisa lakukan adalah merantau ke negeri seberang untuk mencari uang yang banyak.
Ibu     :         Baik lah yah, kalau itu memang yang terbaik untuk kita semua.

Ayah pun berpamitan kepada ibu. (Didepan rumah)
Ayah  :         Bu, ayah pergi merantau ya. Jaga dirimu dan anak kita Malin dengan baik – baik. Jika aku sudah mendapatkan uang yang banayak, aku akan kembali kesini lagi.
Ibu     :         (dengan muka pasrah) baiklah yah, aku akan menuggumu disini sampai kau pulang. Hati – hati ya, jangan lupakan aku dan anak mu ini.
Ayah pun berangkat dengan menggunakan perahu.

 Ayah Malin tidak pernah kembali ke kampung halamannya sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah.
Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.
Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agar dapat menjadi kaya raya setelah kembali ke kampung halaman kelak.
Malin  :         Bu, aku ingin merantau.
Ibu     :         Mengapa kamu ingin merantau nak. Temani ibu saja disini. Biarkanlah Ayah saja yang merantau ke negeri seberang.
Awalnya Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau tetapi Malin tetap bersikeras.
Malin  :         Aku juga ingin seperti ayah bu. Aku merasa kasihan sama ibu, yang setiap hari harus membanting tulang untuk mencari nafkah. Aku ingin mencari nafkah untuk kita bu.
Akhirnya sang Ibu rela melepas Malin pergi merantau.
Ibu     :         Malin, baiklah ibu akan mengijinkan kamu untuk merantau jika kamu mengehendaki itu. Jangan lupakan ibu mu ini ya Malin. Ibu akan selalu menunggumu disini sampai kau datang kembali ke sini.
Malin  :         Baik bu, aku akan kembali kesini lagi.(Sambil membopong barang)
Malin pergi merantau dengan menumpang kapal orang saudagar.
Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut.
Bajak laut     :         Hei kalian ?!! Serahkan semua harta kalian yang ada di kapal ini.
Malin  :         Siapa kalian?! Mengapa kalian meminta harta kami.
Bajak laut     :         Kami bajak laut. Serahkan harta kalian sekarang !!!
Para awak kapal pun tidak terima dengan perilaku para Bajak Laut. Akhirnya mereka pun berperang melawan Bajak Laut. (Malin Kundang langsung mengumpat di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu).
Tapi pada akhirnya, semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang beruntung, dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga tidak dibunuh oleh para bajak laut.
Malin Kundang terkatung-katung di tengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin Kundang berjalan.
Malin  :         (Sambil celingak celinguk) Sepertinya ada sebuah desa disana. Mungkin aku bisa meminta pertolongan disana.
Malin Kundang pun menuju ke desa yang terdekat dari pantai itu. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur.
Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang.
Ketika ibu sedang menyapu di teras
Tetangga      :         Bu, bu, (memanggil sambil menemui Ibu Malin)
Ibu     :         Iya bu, ada apa?
Tetangga      :         Ibu sudah tahu belum, bahwa si Malin anak ibu sudah menikah.
         Ibu     :         (Tersenyum terkejut) Benarkah?! Syukurlah, akhirnya ia sudah menemukan dambaan hatinya. Aku do’akan agar dia bahagia selalu dengan istrinya.
 Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil.
Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak.
 Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya, Malin Kundaang beserta istrinya.
Ibu     :         Apakah itu Malin anakku? Apakah ia bersama istrinya?
(Memegang dada sambil memikirkan apa yang ia lihat)
Malin dan istrinya turun dari perahu denga para pengawal di belakangnnya. Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat
Ibu     :         Malin... Apakah benar kau Malin, dari mana saja kamu malin. Ibu kangen dengan mu, kamu sekarang sudah menjadi saudagar kaya ya.
Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya, Malin Kundang menjadi marah meskipun ia mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya.
Malin  :         Siapa kau ini? Aku bukan anak mu. Aku adalah orang yang kaya raya, aku tidak mungkin memiliki Ibu seperti kamu. Aku jijik melihat kamu! Ibu ku sudah lama meninggal!
Ibu     :         (Berkaca-kaca) Malin...
Tetangga      :         Malin ! Kamu jangan sembarang berbicara, ini ibu mu. Ibu yang selalu merawat mu. Mengapa kamu semudah itu tidak memngingat ibu mu sendiri?! (Geram)
Malin  :         Aku sudah bilang tadi, kalau Ibu ku sudah meninggal sejak lama. Jadi dia jangan mengaku sebagai ibu ku.
Istri Malin     :         Akang, apakah benar wanita tua itu adalah ibu mu?
Malin  :         Bukan istri ku, dia bukan ibu ku. Kamu percayalah sama aku. Masa aku berbohong sama kamu.
Istri Malin     :         Tapi, kenapa ya aku merasa yakin  kalau ibu itu memang ibu kamu kang.
Malin  :         Percayalah kepada ku istriku.
Istri nya mencoba untuk percaya kepada suaminya (Malin)
Tetangga      :         Ibu, apa yang menjadi ciri-ciri anak ibu yang bisa membuktikan bahwa dia adalah anak ibu?
Ibu     :         (Dengan percaya diri) Malin mempunyai tanda lahir di lengan sebelah kanan nya.
Tetangga      :         Sekarang kamu tunjukkan lengan kanan mu? Jika benar kamu mempunyai tanda lahir di lengan kanan mu, berarti kamu benar anak ibu ini. Setuju?
Semua         :         Setuju !
Tetangga      :         Sekarang perlihatkan lengan kanan mu.
Malin  :         Baiklah. (Ketika lengannya di lihat, benar bahwa ada tanda lahir di lengan kirinya. Berarti benar ia adalah anak ibu itu)
Tetangga      :         Jadi kalo begitu sudah jelas semua bahwa kamu adalah anak ibu ini
Malin  :         Tidak mungkin. Ini Pasti sebuah kemustahilan. Apakah kalian mengggunaka sihir untuk membuat tanda ini di lengan ku.
Tetangga      :         Kamu sudah tidak bisa mengelak lagi nak. Kamu adalah Malin Anak kandung ibu ini.
Malin  :         Aku tidak percaya. Ayo pengawal, kita berlayar lagi. Ayo istriku, kita pergi dari sini.
Pengawal     :         Baik tuan.(sambil menunduk sedikit)
Istri Malin     :         Tunggu! (Membentak) Aku sekarang yakin bahwa kamu memang benar anak ibu ini. Aku tidak suka mempunyai suami yang durhaka kepada ibunya.
Malin  :         Apa katamu? Baiklah, kalau kamu tidak ingin pergi dengan ku, aku akan pergi berlayar sendiri. Ayo pengawal!
Pengawal     :         Baik tuan. (sambil menunduk sedikit)
Mendapat perlakukan seperti itu dari anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menyumpahkan anaknya
Ibu     :         Baiklah, kalau kamu tidak mengakui aku ini sebagai ibu mu, aku akan menyumpahi kamu menjadi batu.
Malin  :         Terserah apa katamu!
Benar, ketika Malin berbalik badan untuk meninggal tempat itu, do’a sang Ibu di kabulkan dan akhirnya Malin menjadi batu. Semua orang langsung terkejut melihat kejadian itu.

HIKMAH:
Sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, kita tidak boleh mendurhakai orang tua kita, terutama Ibu. Ibu adalah orang yang melahirkan kita dan merawat kira dengan penuh kasih sayang.
Jangan sekali – kali kita membentak Ibu kita, karena itu termasuk perbuatan durhaka.

2 komentar:

  1. kunjungan sob . .
    bagi"motivasi ya sob :)
    "Apa pun yang Anda percaya, dengan keyakinan, akan menjadi kenyataan.Keyakinan Anda sangatlah menentukan kenyataan hidup Anda.
    Ditunggu kunjungan baliknya :)

    BalasHapus